April 27, 2017

Orangutan dan Sekonyer - TNTP Trip Part II

Tiga hari di Tanjung Puting, ngapain aja tuh? Kalau di post sebelumnya "Klotok Bintang Lima" yang jadi highlight, untuk post kali ini aku akan menceritakan gimana rasanya mengarungi Sungai Sekonyer, kenapa sungai satu ini bisa masuk dalam novel ternama Dee Lestari bersanding dengan Machu Picchu, Himalaya, dan Stonehenge. Tentunya tak ketinggalan... pengalaman 'di-surprise-in' orangutan!

Orangutan, orang(kota), dan Sekonyer

April 13, 2017

Berdua Mama Mencari Sakura - Japan Trip Part I

Trip Korea Selatan tahun lalu memberiku satu "wishlist" tambahan dalam hidup ini: mengajak Mama nge-trip bareng setahun sekali. Kebahagiaan yang muncul setiap melihat ulang foto-foto penuh keceriaan Mama di Korea Selatan... rasanya adiktif sekali. Aku mau lagi. Mau menciptakan kenangan yang lebih banyak lagi. Mau mengunjungi negara lain dengan beliau lagi.

Thank God, tahun ini impianku diwujudkan Tuhan: mengajak Mama berburu Sakura ke Jepang. Kalian yang sudah membaca trip review Korea Selatan diatas pasti tahu bahwa "Mama" dan "taman" adalah dua hal yang berkaitan erat. Makanya, "mengunjungi Jepang saat Sakura" jadi doa yang tak pernah absen kuucapkan sejak awal 2017. Oh ya, tak lupa juga kuucapkan terima kasih untuk Bang Adi yang selalu jadi saluran mujizat dalam bentuk tiket promo impian. Maaf ya, Bang, aku belum berhasil mencarikan tumblr Starbucks motif Sakura 😙

Bukan, ini bukan di Pasar Baru. Ini di kawasan pertokoan Namba, dekat Fuku Hostel.

Disclaimertrip ini penuh kekonyolan imbas dari kurangnya riset selama persiapan, padahal ini kali pertamaku menjadi "tour guide". Saran untuk Readers sekalian: jangan tiru mentah-mentah itinerary-nya, ambil aja beberapa intisari kayak pilihan destinasi (tentunya based on the pictures) dan transportasi menuju kesana. Lalu, nikmati aja trip review ini sebagai penghibur disaat capek atau suntuk melanda kalian. Hehehe.

April 06, 2017

Menjajal Klotok 'Bintang Lima' - TNTP Trip Part I

Post ini menceritakan pengalaman seru mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah: berkenalan dengan sang guide kece, Mas Yusuf Hadi; menjajal hidup diatas klotok 'bintang lima'; mengarungi Sungai Sekonyer yang penuh keajaiban; dan yang paling utama... melihat orangutan langsung di habitatnya. Mari menjadi saksi kali pertamaku menginjak Pulau Kalimantan!

Selamat datang di Tanjung Puting

THE BEGINNING
Kayaknya aku memang berjodoh sama Mas Yusuf, deh. Kok bisa-bisanya secuil post beliau nongol di timeline-ku yang biasanya berisi video lucu anjing-kucing-panda, share berita ekonomi dan keuangan, status nyinyir (sisa-sisa) Pilkada DKI 2017, atau kisah petualang di luar negeri dari grup "Backpacker Dunia". Bahkan post Mas Yusuf itu ada di grup Facebook yang jaraaa~ng sekali aku buka.

Open Trip Taman Nasional Tanjung Puting 10-12 Maret 2017 ini sangat menarik perhatianku, si cewek irit nan mereki'. Bayangin guys, Mas Yusuf hanya nge-charge Rp1,7 juta per orang! Oemji... kalo diingat-ingat (dan di-google lagi) betapa ajakan open trip/tour dari penyedia jasa lain mengenakan harga Rp2 juta-an, Mas Yusuf ini bagai oase di tengah gurun pasir. Aku segera menghubungi beliau dan me-reserve satu kursi. Eh ternyata, sudah H-2 minggu begini peserta open trip baru satu orang bule Swedia yang belakangan mengundurkan diri karena pengen goes independent tanpa guide.

Mas Yusuf, the real MVP

March 04, 2017

Visa Jepang dan Travel Agent 'Perdana'

Selamaaa... darahku masih mengalir... selama itu pula aku milikmu akan menggunakan tenaga sendiri dalam hal traveling. *Buat yang nggak ngeh, itu di awal lirik lagu Om Ari Lasso - "Arti Cinta". Iya tau kok jayus :( Tentu dengan pengecualian tiket promo, hahaha (colek Bang Supriadi tersayang)

Visa Jepang yang terkenal cantik karena ada Sakura-nya
Source: blog.reservasi.com 

Namun akhirnya, mitos "bikin visa harus lewat agen!" mencipratiku juga. Bukan karena aku malas, bukan karena aku kelebihan uang -- seperti yang selalu di'canda'kan beberapa orang -- tapi memang karena tidak ada jalan lain. Mama dan aku wajib membuat visa Jepang karena kami pemegang paspor non elektronik. Emang rada-rada juga sih ini KemenkumHAM, launching si e-paspor persis sebulan setelah kami selesai memperpanjang paspor biasa. Mestikung sekali.

February 21, 2017

Sowan ke Museum Affandi, Sang Pelukis Tanpa Kuas

Jogja, di musim hujan, saat weekend... apa artinya? Bagiku, sih: no beaches, no temples, no popular tourism sites. Musim hujan memang saat yang tepat untuk bermeditasi, hibernasi, pensiun dini, you name it. Menenangkan diri sejenak dari segala penat menenteng backpack dan jalan kaki demi mengeksplor tempat liburan.

Tapi... Semua prinsip itu menguap pada saat hari kedua dinas di Jogja, aku justru merasa bosan mendekam di kamar hotel, menonton HBO dengan tayangan film yang itu lagi-itu lagi. View kamar saat itu menghadap swimming pool dan, dasar pelupa, aku lupa membawa baju renang favorit. Apa lagi yang bisa aku lakukan di hari kosong dinas di Jogja ini?

Jangan diliatin lama-lama, ntar serem sendiri...


Mbak Devi, rekan kerja (eh?) yang menemani dinas kemarin, tiba-tiba saja memberi ide, "Apa kita ke Museum Affandi?" Nah. Ini adalah keputusan yang kesekian, setelah diskusi-diskusi sebelumnya dimana kami sempat mempertimbangkan Candi Ratu Boko (batal karena tidak mungkin sunset terlihat saat mendung begini), Hutan Pinus Imogiri Bantul (jauh bro, ditambah aku masih ber-high heels-ria), dan Rumah Makan Raminten (weekend sore gini pasti rame puoll!)

Gayung bersambut banget nih, soalnya saat perjalanan dari bandara Adisucipto ke hotel satu hari yang lalu, aku melihat Museum Affandi di sisi kanan jalan dan seketika berkeinginan untuk mengunjungi. Masih "keinginan" lho. Ealah ternyata sehati sama Mbak Devi. Selain alasan 'eksternal' di paragraf yang diatas, apalagi Lin yang mendorong kalian untuk ke Museum Affandi?

November 19, 2016

Terpukau Ladyboy di Pattaya

Trip kali ini adalah satu bukti lagi betapa impulsif-nya jiwa traveler-ku. Hanya berkat informasi singkat "Erlin ada tiket promo nih ke Pattaya" dari sang suhu (Bang Adi.red), kuputuskan untuk kembali mengunjungi negeri indah Thailand, namun kali ini ke Pattaya, wilayah di selatan Bangkok yang terkenal dengan nightlife di tepi pantainya.




Bersama Mbak Ari Sulistyowati, officemate dan teman seperjalanan waktu Aceh Trip, aku mengumpulkan banyak kenangan manis dan foto-foto keceh (penting!) selama tiga hari di Pattaya: 4 s.d. 6 November 2016. Seberapa banyak pun komentar miring yang aku dengar/baca tentang kota ini, Pattaya sukses membuatku tersenyum gembira saat menelusuri setiap sudut tempat wisatanya. Pattaya memang bukan Bangkok dengan berbagai kuil dan candi indahnya, bukan juga Phuket dengan pemandangan pulau dan laut yang memikat, tapi Pattaya punya banyak sisi yang menarik untuk ditelusuri.

First dinner: seafood. Mbak Ari sang culinary explorer kaget ternyata porsi makanan di dalam nanas ini banyak juga!

Jadi... kemana saja kami selama 3H2M di Pattaya?